Allahamdulillah …
Hari ini tanggal 12 sya’ban … bulan yang mengiringi kedatangan bulan suci Ramadhan. Sya,ban adalah bulan yang sangat mulia dan dikenal dengan bulan Rasulullah SAW. Beliau selalu berpuasa pada bulan ini hingga datang bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Sya’ban adalah bulanku. Barangsiapa berpuasa satu hari pada bulanku ini, surga adalah miliknya.”
Jika lewat engkau, wahai Sya’ban berarti tertinggal kenangan lama tentang hari dan waktu. Ya … seperti malam-malam nisfu yang dulu. Sholat sunnah dua rakaat. baca Yasin 3 kali lalu bertahlil ramai-ramai … duh indah nya suasana di kampung saat ini, kini disini akan kah terlalui sya’ban seperti itu ?
Setelah air bening yang sudah di taburi doa diperebutkan oleh anak-anak kecil. BUkan dengan keyakinan memperpanjang umur tapi sekedar perlambang bahwa malam itu rahmat Allah turun berlimpah-limpah bagai air, dan kita sudah siap menghirupnya. Subhannallah…
Ada juga yang datang ke mesjid karena roti dan ketan-ketan dibagikan. Bahkan ketika sedang sibuknya yang lain baca doa, ada beberapa orang perempuan kehilangan sandalnya. Menurut nabi SAW, …ibadah puasa dalam bulan sya’ban di lipatgandakan pahala nya oleh Allah. Dan dikatakan para ahli hikmah, Sya’ban adalah bulan untuk membersihkan hati.
Duhai Sya’ban, jika engkau lewat … engkau akan menjadi saksi kepada Allah bahwa maksiat pun semakin menjadi-jadi dalam bulan ini. Banyak yang kemasjid tapi banyak juga yang mempergunakan masjid untuk ambisi pribadi. Ada masjid yang memakai beduk, dan ada juga masjid yang mengutuk beduk. Juga soal jemaah dan jumlah murid terkadang untuk berlomba pasang nama, bukan untuk syiar agama. Ada juga yang untuk kepentingan pribadi, wallahualam dengan jemaah banyak namanya terangkat dan kedudukkannya terhormat.
Ada hal lain soal sedekah dan sumbangan hanya untuk dipuji. Duh ini yang paling sedih dan terlalu justru kalau ada ustad atau kiai yang memuji2 diatas mimbar tentang kedermawanan seorang, disini justru salah kaprah karena sudah mendidik jemaah untuk ria dalam amalnya. Kalau lewat engkau. Sya’ban, engkau akan menghapus dosa sang hamba. Sebab nabi pernah bersabda : Tidak ada suara yang lebih di cintai oleh Allah daripada suara seorang hamba yang bertaubat. Wahai Sya’ban tetapi engkau juga lewat untuk melaknat, yakni mereka yang berkhianat terhadap rahmat Allah, membohongi rakyat dan menyelewengkan amanat.
Sya’ban yang suci, berlalulah engkau dengan tenang, menyobek kabisat demi kabisat. Kami yang kau tinggal hanya mampu melambaikan tangan, batuk mendecing tidak mampu berobat. TBC melumat paru-paru kami biarkan. Sebab obat makin lama makin mahal. sementara pekerjaan makin sukar di kejar, dunia pendidikan seakan lumpuh karena biaya semakin menjulang kami hanya bisa menatap dari jauh melihat kemenara gading di mana seakan dunia hampir habis terkikis dengan ulah umat yang seenaknya. Untuk memjadi pegawai saingan terlalu berjubel, diterima sekian ratus yang daftar sekian ribu, mau kemana diri ini melangkah?
Ahhhh…. Sya’ban tahukah engkau BBM akan naik? biaya rumah sakit juga sudah tidak terkontrol… mau dimana kemana kalau diriku sakit kritis? dokter depan rumah pun tarifnya sudah mahal begitu juga mantri kesehatan di puskesmas kampung sebelah tarifnya juga menjulang. Dokter memang banyak tapi banyak yang sulit kalau di mintai tolong mendadak dengan alasan ada pasien gawat di RS ini duhhhh…… nasib,….. kalaulah yang memisahkan itu hanya tembok kami bisa melompat tapi wahai Sya’ban justru yang memisahkan dokter dengan kami ada lah kantong2 kecil kami, dengan apa bisa ditempuh kalau sudah demikian apakah kami harus MERAMPOK? wahhh itu jelas haram kata ustad Sanusi di pengajian masjid lalu KORUPSI? ini lah kami belum bisa menjawab karena belum ada kesempatan jadi pagawai. Jika lewat Sya’ban keramat, maka banyaklah kuburan sudah terbongkar. Yang keramat bukanlah makam atau orang suci. Yang keramat saat ini adalah zaman yang mana yang berduitlah yang bisa mengambil kesempatan.
Kau lihatlah Sya’ban, orang yang berziarah pun sambil pacaran, pakai celana jean dan cut bray terkadang sambil berbisik melihat ada kuburan yang sedikit terbuka atau menganga dan mulailah bergunjing kalau si A meninggal begini dan si B meninggal karena begitu… lihatlah wahai Sya’ban sedih cukup sedikit umat ini. Dulu ditaburkan kembang di atas kuburan, sekarang ada yang bawa gitar, menyanyi diatas pusara ibunya… itulah hak azasi manusia yang kini sudah punya undang-undang sendiri yang ngga bisa diganggu. Tetapi apakah akan dibiarkan juga pelacur menebarkan tikarnya untuk berzina diatas tengkorak para almarhum dan almarhumah … Masya Allah …
Oh,,, Sya’ban engkau hanya nama bulan, kami tinggal menghitung, kedatangan mu tanpa terasa juga berlalunya engkau. Tetapi yang makin perih pundak dan hati kami, melihat betapa dunia ini semakin gila, dulu tempat melacur sembunyi-sembunyi, sekarang singgah di warung2 pinggir jalan. hotel-hotel besar, dipanti pijat, nite club bahkan kampus dan mall, apa yang kaudapati? Karena ini kami ingin berkompromi, denganmu Sya’ban. Tolong … jangan kau catat yang jelek-jelek tentang kami, nanti engkau kami sanjung dan kami hormati. Bukankah tak ada urusan zaman ini yang tak beres dengan kompromi, yah…. pokoknya asal “ente” bijaksana,”ana” pun bakal tahu dirilah. TST lah kita makan sama-sama Tulisan ini khusus untukmu Sya’ban, jangan bocorkan pada orang lain. Sebab kini kami sedang mencoba memperbaiki langkah, restu keagunganmulah sebagai bulan Nabi yang kami harapkan, mudah-mudahan mempercepat sampainya harapan kami sebagai rakyat dan umat nabi Jika lewat Sya’ban, maka kami semua sedang bersiap2 diri. Kami bangun negeri ini, sebab inilah satu-satunya milik kami.
wassalam
Note: dinukil dari “Kisah Teladan” sumber